Wednesday, February 29, 2012

Sepenggal Kisah Masa Lalu

Jadi ingat dulu jaman masih duduk di bangku SMA, saya dan kakak sepupu saya sering meluangkan waktu bersama di akhir pekan dengan melihat area pematang sawah. Kami sering berkeliling dari satu area ke area lainnya dengan menggunakan motor butut milik pakde (orang tua kakak sepupu). Motor butut itu biasa kami namai dengan motor Norton. Motor Norton ini sebenarnya adalah motor dinas yang diberikan oleh pemerintah kepada pakde saya yang seorang PNS mantri kesehatan. Karena umur motor yang sudah lanjut (motor tahun 80-an), maka sudah layak disebut dengan motor antik. Sayang seribu sayang saya tidak memiliki fotonya.



Dulu sewaktu SMA, saya lebih memilih ngekost karena jarak sekolah yang lumayan jauh dari rumah. Maka saat-saat akhir pekan menjadi waktu yang dinanti-nanti untuk membuang jauh kepenatan dengan berkeliling desa memandangi sawah hijau terhampar. Kami biasa memasuki jalan sempit di kanan kiri sawah untuk dapat melihat hamparan padi terbentang luas nan melambai-lambai. Meski kadang jalan yang dilalui becek berlumpur, namun motor Norton masih cukup bisa diandalkan mengatasi hal ini. Sesampainya di tempat yang diinginkan, kami biasanya akan sejenak berlama-lama memandangi para petani yang sedang sibuk mengurusi sawahnya. Tak jarang kami juga melihat beraneka burung beterbangan diatas sawah-sawah itu.

Setelah puas menikmati tempat yang satu, kami biasanya akan melanjutkan mencari tempat yang lainnya lagi. Tentu ditemani dengan motor antik Norton yang kadang sesekali mogok di jalan. Sungguh saat-saat yang menyenangkan dan akan selalu saya kenang.

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, February 28, 2012

Hangat di Pawon

Setiap kali pulang kampung ke Magetan saya sering suka berlama-lama di dapur. Tidak lain adalah mencoba menghangatkan badan di depan tungku pawon yang sedang menyala. Tungku yang terbuat dari tanah liat ini digunakan bapak untuk merebus air untuk pakan ternak. Bapak memiliki 2 jenis ternak di rumah, yakni sapi dan kambing. Dengan ternak-ternak tersebut setiap pagi bapak musti merebus air untuk pakan ternak. Tentu merebus air di tungku tanah liat dengan kayu sebagai bahan bakar ini sangat hemat dibandingkan dengan kompor gas ^_^.



Menghangatkan diri di depan tungku pawon ini mengingatkan saya ketika masih kecil dulu. Ketika menemani mbah yang sedang memasak sayur, menanak nasi atau juga menggoreng kopi. Hemm sungguh masa-masa yang menyenangkan. Sekarang inipun mbah juga masih menggunakan tunggu pawon tanah liat ini dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Kayu sebagai bahan bakar ini banyak tersedia di belantaran sungai kampung. Namun sayangnya sekarang saya sudah jarang ke rumah mbah, hanya sesekali saja jika sedang pulang kampung. Merindukan saat-saat menggoreng kopi bersama mbah.

Bagaimana dengan kamu kawan? apa ada tungku pawon tanah liat di rumahmu?

[+/-] Selengkapnya...

Islam Liberal 101

"Komentar saya singkat: ini buku yang hebat!"
-Ahmad Sarwat, Lc-


"Buku Islam Liberal 101 karya saudara Akmal Sjafril adalah buku yang patut dibaca oleh para cendekiawan, para pemikir, bahkan juga para mahasiswa Muslim yang ingin mendalamai betapa lemahnya argumentasi-argumentasi yang dikemukakan kaum islam liberal. Pemikiran mereka sesungguhnya sangat tidak logis dan juga sangat lemah; hanya hawa nafsu untuk mengacaukan pemikiran umat islam. Sayangnya mereka tidak pede untuk tidak memakai nama islam."
-Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin, M.sc-


Dua cuplikan komentar dari tokoh muslim berkategori ulama diatas menjadi bukti konkret bahwa buku berjudul lengkap 'Islam Liberal 101' karya Akmal Sjafril ini memang sangat bagus. Its very recommended book. Pertama kali dicetak dipasaran, buku ini telah mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Perlu diketahui bahwa buku ini dicetak pertama kali pada bulan November 2010. Cetakan pertama tersebut habis dalam dua setengah pekan. Ingat yah..! 'habis dalam dua setengah pekan'. Cetakan kedua habis dalam tempo satu setengah bulan. Dan buku yang saya pegang ini adalah buku cetakan ketiga. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, pada bulan ini (Februari 2012) buku cetakan yang keempat sudah siap di edarkan kembali. Sebuah bukti tak terbantahkan akan kehausan umat dalam mendapatkan ilmu yang cukup untuk membekali (khususnya diri pribadi) dalam menangkal pemikiran nyleneh ini.

Kita tentu tahu istilah Ghazwul Fikriy bukan?. Secara sederhana diistilahkan yakni sebuah perang pemikiran. Sejak dari judul, kemudian awal tulisan di halaman satu, sampai nanti di halaman terakhir, buku ini sarat akan kandungan tema tersebut. Sebuah tema yang sebenarnya sudah berlangsung sejak berabad-abad tahun yang lalu. Sebuah tema yang berat memang, namun disajikan dengan bahasa penulisan yang ringan. Mudah dipahami bahkan untuk orang awam sekalipun.



Buku ini disajikan dalam 5 Bab yang sangat menarik. Saya tidak akan menjelaskan Bab demi Bab secara rinci kepada anda pada tulisan ini. Namun saya akan mencuplik satu Bab yang menurut saya paling menarik untuk disimak. Yakni Bab ketiga 'Modus Operandi'. Sebuah Bab yang membahas semua modus operandi yang sering digunakan kaum liberal dalam menyebarkan virus tersebut ke dalam masyarakat muslim. Ada 'permainan istilah', 'tuduhan palsu', 'pembelokan masalah', 'pemotongan ayat', dan terakhir 'lempar batu sembunyi tangan'. Disini pembaca diharapkan mampu mengidentifikasi secara dini serangan-serangan liberalis yang mungkin bisa saja tidak kita sadari.

Penulis buku ini terkenal sangat aktif menulis mengenai fenomena islam liberal di blog pribadinya. Tidak mungkin seorang Akmal Sjafril mampu menulis buku ini dengan sangat baik jika dia tidak aktif berdebat dan meneliti tentang #mereka. Yah.. hastag twitter #mereka ini tentu saja ditujukan kepada kalangan liberalis. Namun uniknya, Akmal tidak pernah atau dalam catatan saya tidak pernah berdebat dengan liberalis kelas top semacam Ulil. Karena setiap ada yang bertanya pada Ulil mengenai pendapatnya terhadap buku ini, dia selalu mengatakan buku ini 'tidak mutu'. Alhasil penyanggahan secara intelektual dari kaum liberalis terhadap buku ini tidak pernah dilakukan.

Buku Islam Liberal 101 ini termasuk dalam kategori buku berat namun disajikan oleh Akmal secara ringan. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, buku ini layak menjadi buku pegangan dalam menghadapi infiltrasi pemikiran kaum liberalis. Perlu dicatat juga, buku ini juga dibekali dengan referensi intelektual yang mumpuni mulai dari Al Quran, Hadits, dan juga karya-karya besar pemikiran ulama macam Buya Hamka, Adian Husaini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Syamsuddin Arif, Adnin Armas, dan pemikir-pemikir islam yang lain.

Bagi saya, mau islam ya islam aja, mau liberal ya silahkan liberal, jangan dicoba dicampuradukkan. Karena secara bahasa aneh jika dipasangkan, yang satu adalah 'Islam' yang berarti agama dengan segala 'batasan' yang disyariatkan oleh Allah azza wa jalla. Sedangkan yang satunya adalah 'liberal' yang berarti 'bebas atau berpandangan bebas'.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, February 16, 2012

Awan

Kau tahu kawan bagaimana kisah awan itu terbentuk? ah pastilah kau tahu itu. Di sekolah dasar sudah diajarkan mendetail mengenai siklus air hujan dan terbentuknya awan. Tapi kemudian jika kita bertanya kepada seorang teman, "Apa kau suka awan?", kebanyakan dari mereka akan mengatakan kurang suka atau bahkan mungkin tidak suka. Mereka lebih suka langit dengan keelokan kerlip bintang menggantung atau denting rinai hujan yang jatuh menghujam lembut ke bumi.



Mengagumi rintik hujan namun kurang merenungi awan. Mencintai langit namun kurang menghayati awan. Padahal awan seringkali menjadi goretan tinta indah dalam kanvas langit. Dan hujan, dia keluar dari gumpalan awan menghitam layaknya anak yang keluar dari rahim sang ibu. Dan sekali lagi, awan akan selalu tetap menjadi bagian dalam gemerlapnya simfoni pemandangan langit.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, February 15, 2012

Karakter : Api vs Api

Pernahkah kawan bertemu dengan orang yang setiap perkataannya selalu menyakiti hati kita. Setiap apa yang keluar dari mulutnya selalu membuat kuping kita panas. Ingin rasanya kita membalas cemoohan mereka dengan cemoohan yang lebih menyakitkan lagi. Namun kita akan berpikir lagi, "trus apa bedanya kita dengan mereka?". Pernahkan bertemu dengan orang-orang seperti itu kawan?. Orang yang setiap apa yang keluar dari mulutnya terasa menusuk-nusuk hati dan seringkali merendahkan.

Saya pribadi pernah atau kadang bertemu dengan tipe orang seperti ini. Entahlah, mungkin betul juga apa yang sering dikatakan orang jawa bahwa "geni ojo dilawan karo geni" yang artinya api jangan dilawan dengan api. Karakter yang senantiasa berlawanan, tidak pernah bisa klop. Setiap yang dikatakan orang itu sering kali membuat saya sakit hati dan terkadang malah emosi. Namun selama ini saya lebih sering memilih menghindar dari tipe orang seperti itu. Yah.. menghindar, hanya itu yang bisa saya lakukan. Sebisa mungkin saya akan menghindar dari berbincang-bincang dan berinteraksi dengannya walaupun secara fisik dia mungkin dekat.

Tiga hari ini saya pulang ke kampung halaman di Magetan untuk bertemu dengan keluarga tercinta (menjadi alasan juga kenapa blog saya terbengkalai selama 3 hari ini) . Iseng-iseng saya memilah-milah buku yang ada di lemari tempat istri menyimpan koleksi buku-bukunya yang berjubel. Saya kemudian menemukan buku berjudul "Laa Tahzan" karya Dr. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni. Kalimat yang ada di halaman 53 buku itu sangat menggambarkan dengan tema yang saya tulis ini.

Sesungguhnya anda tidak akan mampu membungkam mulut mereka dan tidak pula mampu mengekang lisan mereka untuk diam. Akan tetapi, anda mempunyai kemampuan untuk mengubur kritikan mereka, membalas sikap mereka dengan menjauh dari mereka, tidak memperhatikan sepak terjang mereka, dan tidak mengindahkan ocehan mereka.





-fifin-
15 Februari 2012
Bandung

[+/-] Selengkapnya...

Friday, February 10, 2012

Gorengan

Entah kenapa akhir-akhir ini saya suka sekali memotret tentang makanan. Setiap kali ada makanan yang menurut saya unik, maka sejenak kemudian saya akan mengambil hape dan kemudian mengambil foto makanan tersebut. Seperti halnya kemarin sore di kantor. Ketika beberapa teman tengah asik mempersiapkan pertandingan ping-pong antar kantor, Mas Ismed yang seorang HRD berinisiatif membelikan gorengan sebagai teman bersorak dalam pertandingan resmi tersebut. Dan rekan-rekan yang tidak ikut berangkat bertanding, tetap diberikan setengah porsi dari gorengan yang telah dibeli tersebut.

Nah, berikut adalah gorengan yang sempat saya ambil fotonya kemarin sore.



Enak kan?!




-fifin-
10 Februari 2012
Sebenarnya hari ini ingin memposting tentang review buku Islam Liberal 101, namun belum selesai ditulis. Mungkin besok pagi dipostingnya insyaAllah.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, February 9, 2012

Sarapan Tujuh Ribu

Hari itu saya sedang pulang ke kampung halaman di Magetan. Kali ini yang menjemput adalah bapak dan ibu. Istri saya sedang tidak bisa menjemput karena suatu hal. Karena masih pagi, bapakpun mencoba mencari warung untuk sarapan nasi pecel. Sesampainya di daerah Madigondo, mata kami celingak-celinguk mencari warung nasi pecel yang pernah saya bahas disini. Wah kok tutup sih!!. Kami sedikit kecewa. Ini pertama kalinya saya menemukan warung nasi pecel legenda itu tutup, padahal sebelumnya belum pernah. Sesaat kemudian baru kami menyadari bahwa hari itu adalah hari minggu. Rupanya warung nasi pecel spesial tersebut libur ketika hari minggu.

Kamipun musti mencari warung nasi pecel yang lain. Mobil butut yang kami tumpangi mulai kembali menjejak roda melanjutkan perjalanan mencari lokasi nasi pecel di sepanjang jalan menuju rumah. Dan tepat di daerah Takeran, kami menemukan sebuah warung nasi pecel yang cukup ramai. Terlihat beberapa orang bapak keluar masuk warung tersebut. Kami segera turun dari mobil dan masuk ke dalam warung itu. Bapak langsung memesan 2 nasi pecel, 2 teh panas, dan satu kirlik (secangkir kopi dengan porsi kecil).

Di samping saya terlihat seorang bapak-bapak yang tersenyum ramah sambil meminta ijin untuk makan duluan. Yah begitulah.. ramah tamah di desa begitu kental.



Nasi pecel ini harganya hanya 2 ribu rupiah, sama dengan ongkos parkir reservasi stasiun Bandung



Teh panas ini harganya seribu rupiah



Kopi kirlik ini harganya seribu rupiah


Jadi total semuanya dibandrol hanya tujuh ribu rupiah saja ^_^.


-fifin-
9 Februari 2012

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, February 8, 2012

Bekerja Halal

Pemuda itu kembali memegangi perutnya yang sangat lapar. Sudah dua hari ini dia kehabisan bekal. Dalam perjalanan kali ini, dia disuruh oleh ibunya untuk mengantarkan barang kepada rekan bisnis yang masih terhitung saudara di perkampungan yang cukup jauh dengan tempatnya tinggal. Namun, ekspektasi lama perjalanan kali ini ternyata berbeda dan sama sekali salah. Di tengah perjalanan ada seorang ibu-ibu dengan dua anak kecil yang sedang menangis. Karena penasaran, disapalah ibu itu dengan ramah. Ternyata mereka tidak memiliki makanan dan tengah kelaparan. Tanpa banyak berpikir, diambilah sisa bekal makanan yang ada kemudian dibagikan kepada ibu dan dua orang anaknya itu. Raut sangat gembira tergambar jelas di wajah ibu yang teduh itu sambil terus menerus mengucapkan banyak terima kasih kepada pemuda itu, semoga Allah nanti yang akan membalasnya. Pemuda itupun hanya tersenyum dan segera beranjak pergi sesaat setelah mengusap kepala kedua anak kecil itu yang kali ini sudah tak lagi menangis.

Sejenak angin semilir menggoyang-goyang anak rambut pemuda itu. Setelah berdehem sebentar diapun mendongak keatas. Ah mentari sudah naik tepat diatas di ubun-ubun, sudah saatnya sholat dhuhur. Pemuda itupun kemudian segera mencari masjid yang ada di perkampungan terdekat. Akhirnya dia menemukan masjid yang berada di tengah-tengah perkampungan. Lokasinya yang sangat strategis membuat jamaah yang datangpun terbilang cukup banyak. Pemuda itupun langsung mengambil air wudhu dan segera bergabung dengan jamaah lain untuk menunaikan sholat dhuhur. Pemuda itu khusuk dalam sholatnya dan berdoa supaya dikasih rejeki halal penyambung hidupnya.

Selesai sholat dan sejenak berdoa, ada seorang bapak-bapak yang tiba-tiba menghampiri. Bapak itu ternyata salah seorang pengurus masjid. Setelah sedikit berbincang, pemuda itupun berterus terang ingin bekerja apa saja untuk mendapat hasil halal dan bisa membeli makanan. Dia tengah kelaparan. Mendengar penjelasan pemuda yang ditemuinya itu, bapak pengurus masjid tersenyum teduh.

"Anda tidak usah bekerja nak, kebetulan istri saya telah memasak cukup banyak hari ini. Anak-anak saya kebetulan tengah bermain ke rumah nenek, entah kemungkinan hari ini pulang atau tidak".

"Afwan pak, bukannya menolak tawaran bapak, tapi saya ingin memakan makanan hasil keringat saya", pemuda itu menjelaskan dengan cukup hati-hati agar tidak melukai perasaan bapak pengurus masjid.

Bapak itupun berpikir sejenak, dan kemudian berkata lagi.

"Di rumah saya ada 5 ekor kambing, bagaimana jika kamu membersihkan kandang kambing saya dan saya akan memberikan upah dari hasil kerja kamu itu".

"Subhanallah, baik pak saya setuju". Pemuda itupun berbinar-binar dengan tawaran mengurus kandang dari bapak pengurus masjid itu. Meski tenaganya hampir habis, dia tetap bertekad.

Setelah hampir dua jam akhirnya pemuda itu selesai membersihkan kandang, mencari pakan di kebun di belakang rumah, dan mengisi air untuk minum 5 kambing itu.

Melihat kerja keras pemuda itu, bapak pengurus masjid merasa terenyuh dan segera memberikan upah tepat setelah selesai pemuda itu bekerja membersihkan kandang. Memberikan upah bahkan sebelum keringat pemuda itu kering, bukankah itu sunnah dari Rosulullah?.

Sebuah pekerjaan halal untuk sebuah hasil yang halal. Subhanallah, hikmah yang bisa kita petik pagi ini.



-fifin-
8 Februari 2012.
Sebuah pagi di Bandung sambil ditemani nonton Naruto.

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, February 7, 2012

Kue Tak Terduga

Pagi ini ada kejutan yang luar biasa dari boss. Beberapa potong kue yang sangat menggoda sudah tergeletak melambai-lambai di meja.


Hemm dari tampilannya sepertinya lezat. Mau?? ^_^

[+/-] Selengkapnya...

Monday, February 6, 2012

Stasiun Kehidupan

Sudah tiga tahun terakhir ini saya menjadi begitu akrab dengan stasiun, dan mungkin untuk beberapa waktu kedepan akan seperti itu juga. Stasiun, salah satu tempat umum yang berfungsi sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api, salah satu angkutan massa favorit masyarakat. Termasuk saya yang memilihnya sebagai penghubung antara kampung halaman dan kota harapan tempat saya mendapatkan maisyah.

Yaa stasiun. Dalam sebuah perjalanan sampai ke tujuan akhir, kereta api akan melalui dan berhenti di stasiun-stasiun yang telah ditentukan. Tidak lantas tanpa henti dari stasiun pemberangkatan sampai stasiun penghujungnya. Ada titik-titik pemberhentian untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, mengisi bahan bakar, berganti masinis dan beberapa hal yang lainnya.

Demikian juga dengan perjalanan kehidupan manusia, mempunyai titik pemberhentian (stasiun) nya masing-masing. Mulai dari stasiun pemberangkatan, yakni ketika mata terbuka melihat dunia, masa kelahiran. Diikuti masa remaja, yang mengantarkan ke fase dewasa. Hingga sampailah ke stasiun penting berikutnya yaitu stasiun pernikahan dimana akan ada ”teman baru” yang menemani perjalanan, diikutilah dengan stasiun-stasiun berikutnya, yang pada akhirnya sampai ke stasiun terakhir. Saat itulah, telah tiba masanya untuk kembali padaNya, Sang Pemilik Segala, Allah SWT. Namun tidak mesti manusia diberi kesempatan melalui seluruh stasiun yang ada. Bisa jadi ketika berada di stasiun awal, maka disitu juga ditakdirkan menjadi stasiun terakhirnya. Semuanya berada pada kehendak Allah SWT.


Tidak hanya berhenti sesaat di stasiun besar saja yang menandai suatu fase kehidupan, namun ada saatnya dalam prosesnya tempat untuk berhenti mesti sebentar saja. Sebagaimana kereta api tadi saat bertemu dengan stasiunnya, menurunkan sebagian penumpangnya yang begitu sesak. Pelaku perjalanan hidup juga perlu berhenti untuk bertemu dengan seorang yang bisa menerima dan mendengarkan sebagian masalah di kepala. Berbagi tentang rasa yang membuat sesak di dada, bahkan seringkali menyiksa. Dengan harapan beban tersebut terasa lebih ringan ketika kita diharusnya mulai bergerak kembali. Bisa jadi orang yang kita ajak berbagi itu seorang sahabat, saudara kandung, ibu, ayah, atau suami dan istri yang saat bertemu dengannya, sekedar melihat tatapannya saja, masalah yang menggumpal di kepala segera beterbangan
.

Dan saat kereta berhenti pun tidak hanya menurunkan penumpang saja, tetapi juga menaikkan penumpang. Demikian juga kita sebagai pelaku perjalanan, setelah cukup bicara melonggarkan sesak, tidak boleh egois. Perlu bagi kita untuk menjadi pendengar, menangkap informasi dan keluh kesah seorang yang juga telah setia mendengarkan kita. Juga berempati dengannya, ini bisa mengisi banyak jenis kantong yang ada di diri kita. Kantong kesyukuran, kantong kelembutan, kegembiraan, tanggung jawab, cinta dan hal lainnya yang akan membuat perjalanan berikutnya lebih berarti lebih berwarna.

Ketika tiba saatnya pegawai PT. KAI di stasiun sudah meniup peluit panjang, artinya kereta harus kembali berjalan. Mengantarkan penumpang lainnya, yang sejak tadi naik maupun yang baru saja menjadi penumpang. Yup! Walau kadang berat, dan menyesalkan kenapa waktu cepat sekali bergulir, karena ternyata berhenti bertemu dengan seorang atau orang-orang yang mau mendengar curhat dan berbagi sangatlah nyaman, sangat menyenangkan. Meskipun demikian, kita harus kembali bergerak. Kembali mewujudkan impian dari apa yang telah kita rencanakan, membuat senang dan bangga seorang dan orang-orang yang kita cintai.

Begitulah, walau pergi meninggalkan, namun dengan ijinNya akan bertemu kembali dengan penuh kerinduan, seperti kereta api yang akan kembali bertemu dengan stasiun-stasiunnya, berulang setiap harinya.




#Tulisan ini pernah saya posting di blog saya yang lain disini, tetapi karena blog tersebut sudah tidak bisa dimanage lagi, terlalu sayang jika tidak di arsipkan kesini ^_^.

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, February 5, 2012

Ketela Goreng Hujan

Fakta berkata beberapa bulan terakhir ini memang hujan telah menjadi penghias hari-hari saya. Entah saat sedang di kantor atau sedang berada di rumah. Baik sedang berada di Bandung maupun di kampung halaman di Magetan. Dia menjadi teman berbagi yang tak pernah mengecewakan. Ketika hujan turun, saya sering melangkahkan kaki ke baranda rumah untuk sekedar melihat hujan. Menikmati sensasinya dan mencoba mengakrabinya. Suasana gemericiknya dengan jutaan bulir hujan yang menghujam ke tanah terasa sangat menentramkan hati. Inilah nikmat Allah.

Saya ingat dulu waktu masih kecil, ketika hujan turun bapak sering membuat ketela goreng. Rasanya gurih diluar dan lembut di dalam. Entah apa resepnya, ketela itu terasa enak sekali. Kata beliau, ketela yang baru saja dikupas dan dibersihkan, jangan langsung digoreng. Namun terlebih dulu harus di rebus. Ini akan menghasilkan ketela goreng yang bercita rasa tinggi. Terlepas dari resep sederhana yang beliau utarakan, yang jelas bagiku kelembutan cinta untuk keluargalah yang membuat ketela goreng buatan beliau terasa nikmat.

ketela goreng home made


Sebagai pendamping ketela goreng, saat-saat hujan yang dingin paling nikmat ditemani dengan secangkir kopi hitam. Kopi ini sangat berbeda dengan kopi shacet yang beredar di pasaran. Bubuk kopinya dibuat sendiri di rumah. Kalau kata mbahku di kampung, biji kopi murni yang dibeli di pasar kemudian di keringkan. Selain biji kopi murni ini, ditambahkan beras. Kemudian beras dan kopi yang sudah dikeringkan ini digarang (digoreng tanpa minyak) dengan api sedang. Oh iya, api yang digunakan yaitu dari kayu bakar, bukan dari kompor. Setelah warna kopi dan beras ini agak hitam (hampir gosong), barulah kemudian ditumbuk. Jadilah kopi hitam spesial buatan sendiri.


Menurutku kopi jenis ini kadar kafeinnya sangat rendah, terbukti meski minum jam 8 malampun, jam 9 sudah bisa tidur nyenyak. Kalau kopi yang beredar di pasaran, saya tidak berani minum di sore hari apalagi di malam hari. Kecuali jika sedang ingin nonton bola.



-fifin-
Kontrakan Bandung, 5 Februari 2012
Ditulis sambil nonton 'Apa Kabar Indonesia Pagi' TV One yang membahas kisruh Partai Demokrat.

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, February 4, 2012

Jangan Melupakan Sejarah

Dulu waktu saya masih tingkat SMU, paling bosan dengan pelajaran sejarah. Menurut pandangan saya ketika itu, pelajaran sejarah itu tidak menarik dan tidak penting. Berbeda dengan ilmu eksakta yang terlihat lebih dibutuhkan di masa mendatang. Saya pun sering menguap bosan jika sedang mendapat pelajaran tentang sejarah. Entah gurunya yang tak lihai meracik pelajaran ini menjadi menarik atau memang dari pangkalnya sendiri sudah tak membuatku tertarik.

Namun belakangan saya mulai sedikit mengubah paradigma berpikir saya. Saya mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau sejarah. Entahlah, perasaan suka itu muncul setelah membaca novel menarik berjudul Pengikat Surga karya mbak Hisani Bent Soe. Ketika membaca buku itu, (ditambah genrenya yang berupa novel) membuat saya seperti melihat dengan jelas kondisi perjuangan Rosulullah di masa lampau. Berjuang bersama sahabat-sahabat mulia yang beriman dan teguh. Saya seperti berada di tengah-tengah mereka.

Sejarah menjadi sangat menarik bagi saya. Bukan karena perubahan paradigma, namun lebih karena ternyata sejarah memang benar-benar menarik. Maka tak heran beberapa ratus abad yang lalu, Ibnu Khaldun (seorang sejarawan muslim dari Tunisia) yang bernama lengkap Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami yang terkenal dengan karya fenomenalnya Muqaddimah pernah mendefinisikan tentang sejarah.
"Sejarah adalah ilmu sangat berharga, sangat bermanfaat dan sangat mulia dalam tujuannya. Ia menjelaskan kepada kita tentang perilaku-perilaku umat terdahulu, jalan hidup nabi-nabi serta cara raja-raja mengatur negara-negara mereka. Dengan itu kita dapat meneladani mereka dalam urusan agama dan dunia. Sejarah, membutuhkan banyak sudut pandang dan beragam pengetahuan serta kemampuan analisa untuk sampai pada kebenaran dan terbebas dari kesalahan".

Dan benar saja. Dengan membaca sejarah kita bisa mengambil banyak hikmah dari kejadian-kejadian luar biasa di masa lampau. Seperti halnya Rosulullah, ketika beliau sedang sedih atau merasa berat, Allah menghiburkan dengan kisah nabi-nabi terdahulu (kisah nabi-nabi ini banyak dikisahkan di dalam Al Quran). Ini seperti pesan suci dari Allah kepada Rosul bahwa beliau tidak sendiri dalam perjuangan. Ada nabi-nabi terdahulu yang sudah memulai.

Dan kini, rasanya saya ingin sekali membaca ulang sejarah lengkap pahlawan pergerakan islam di Indonesia. Juga buku-buku pemikir hebat islam pada masa lalu seperti Moh. Natsir (pendiri DDII) , Buya Hamka, Sayyid Qutb, Hasan Al Banna dll. Namun bukan sekedar sejarah, tapi sejarah yang benar dan aktual. Bukan sejarah yang dibengkokkan oleh kepentingan politis belaka. Kita ambil contoh sejarah perang Padri (1803-1821) pimpinan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Dulu waktu sekolah dasar, sering kita membaca riwayat perang Padri sebagai akibat perebutan tanah dengan kaum adat (semoga ingatan saya tidak salah). Tidak pernah dibahas bahwa faktor utama peperangan tersebut akibat Tuanku Imam Bonjol yang seorang ulama ingin menerapkan syariat islam kepada rakyatnya. Namun kemudian ditentang oleh kaum adat sehingga terjadi pergolakan. Dan bahkan penjajah belanda akhirnya membantu kaum adat untuk mengalahkan kaum padri / kaum ulama, namun gagal dan berujung pada perjanjian damai (sumber).

Juga mengenai sejarah periode peralihan rezim Tokugawa ke era Meiji di Jepang. Saya pernah membahasnya singkat dalam postingan Himura Kenshin dan Arya Kamandanu. Sejarah memang menarik untuk disimak kawan. Seperti kata Ibnu Khaldun, dengan mempelajari sejarah, kita bisa meneladani mereka dalam urusan agama dan dunia. Jadi ingat petuah bijak mbah-mbah di kampungku kalau sedang ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi, "Ojo lali karo sejarah" (yang artinya jangan lupakan sejarah).



-fifin-
Kontrakan Bandung, 4 Februari 2012.
Sambil menikmati keripik tempe bawaan istri dan juga secangkir teh Walini lemon .

[+/-] Selengkapnya...

Friday, February 3, 2012

Grebeg Pasar

Meski terbilang minim pulang ke Magetan, saya cukup sering mengantar dan menemani istri belanja di pasar. Pertemuan yang sangat jarang membuat kegiatan sekecil apapun terasa lebih menyenangkan. Melihat banyak ibu-ibu yang sangat sigap menjajakan berbagai barang, mulai dari makanan hingga pakaian. Ini dia yang namanya pintu rezeki. Bukankah Rasululloh sendiri bersabda bahwa sembilan dari sepuluh pintu rezeki berada pada perniagaan?. Dan pasar adalah satu satu tempat yang sangat efektif dalam berniaga. Pasar menjadi sangat penting dalam membangun ekonomi umat, karena disinilah uang berputar sangat cepat. Bahkan menjadi hal kedua terpenting yang dibangun oleh Nabi Muhammad di negara Madinah setelah Masjid. Ini menjadi bukti konkrit betapa pasar memegang kunci penting peradaban.



Ada yang cukup menarik ditilik dari aktifitas pedagang di sebuah pasar. Kalau dicermati lebih dalam lagi, kita akan bisa melihat sebuah fenomena menarik. Pedagang yang cerewet / grapyak itu cenderung didatangi pembeli pertama kali. Setelah itu, baru kepiawaian dalam berdaganglah yang membuat dagangannya laris atau malah sepi sama sekali.



Kali ini saya dan istri sedang mencari pisang. Di salah satu sudut pasar terdapat kerumunan pedagang yang sedang menjual pisang. Saya tidak begitu mengerti tentang jenis-jenis pisang, yang jelas cukup banyak jenisnya. Ada yang sudah matang siap dimakan, ada juga yang masih hijau sehingga perlu beberapa hari untuk bisa masak sempurna.



Pergi ke pasar sering mengingatkanku pada sebuah cerita yang terdapat dalam novel serial Anak-anak Mamak-Pukat karya Tere Liye. Suatu ketika Pukat dan Burlian disuruh menemani Mamak menjual hasil kebun berupa buah duku di pasar. Namun kedua begundal kecil itu selalu protes dengan cara Mamak yang membandrol dagangannya dengan harga yang begitu murah. Karena murah, duku itu ludes bahkan sebelum matahari naik keatas. Logika kedua anak kecil itu berkata bahwa dengan menaruh harga tinggi maka keuntungan yang didapat akan sangat maksimal. Keesokan harinya Mamak memberi kesempatan kepada Burlian dan Pukat untuk menerapkan teori mereka. Bagaimana hasilnya? ha ha.. dagangan mereka kurang laku. Duku-duku yang dijual masih banyak yang tidak laku. Sudah bisa ditebak, merekapun rugi ^_^.



Hikmah bisa didapatkan darimana saja bukan?, bahkan di pasar sekalipun.


-fifin-
Kontrakan Bandung, sambil ditemani nonton Naruto.
3 Februari 2012

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, February 2, 2012

Kesabaran Panjang

Hari itu hari sabtu. Hari biasa saja, tidak ada yang spesial. Hanya sebuah rutinitas kegiatan khas hari sabtu yang saya kerjakan. Jalan pagi, bersih-bersih, cuci piring dan berbagai pekerjaan rumah tangga yang lain. Maklum saja, dengan hidup sendiri saya musti belajar untuk hidup mandiri. Meski pada kenyataannya, rumah ini tetap saja seperti kapal pecah, tak sebersih ketika istri sedang liburan menemaniku disini.

Siang itu saya baru saja selesai pulang sholat dhuhur. Rencananya ingin menonton dorama Detective Conan sambil menikmati nyruput kopi cappucino dengan cokelat granule. Tapi tiba-tiba ada sms berdering dari ponsel kecil saya. Rupanya sms dari istri menanyakan kabar dan keadaaan. Tak berapa lama saya segera membalas sms mangabarkan kondisi dan apa yang sedang saya lakukan. Ya gitu deh.. sms khas anak muda yang sedang kena virus. Virus cinta ^_^.

Selesai membalas sms, saya segera menyalakan laptop untuk segera menonton dorama Conan. Sambil menunggu laptop booting, saya ke dapur untuk membuat kopi. Belum sempat saya menyalakan kompor untuk memasak air, tiba-tiba terdengar ringtone hape saya yang ber-soundatrack palestina tercinta, shouhar. Hemm rupanya telepon dari istri.

Istri : "Mas... #%^&*(***&%$#@^&.....".

Suara istri nyaris tidak bisa dipahami, dia menangis sesenggukan. Saya ikut panik. Rasa penasaran, kaget, bingung bercampur menjadi gado-gado kepanikan.

Saya : "Ada apa dek!!?". Saya semakin panik saja.

Istri : "Ibu meninggal mas..., tadi ketika nonton TV trus ingin ke kamar melihat kondisi ibu, namun dia sudah tidak ada, MasyaAllah....". Suara istri saya semakin sesenggukan saja.

Innalillahi wa ina ilaihi roji'un. Ya Allah mudahkanlah jalan beliau ya Allah. Jadikan beliau mendapat tempat terbaik disisi-MU. Dan untuk beberapa saat lamanya saya berusaha menenangkan kesedihan istri saya. Sayapun hari itu juga, langsung memesan tiket kereta untuk pulang ke Magetan malamnya.

Hati saya sejenak kelu, mengingat semangat jihad Ibu dalam kesabaran atas penyakit itu. Bisa dibilang Ini sebuah episode heroik kesabaran panjang dari seorang ibu. Beliau menderita stroke parah sejak istri saya masih kelas 2 SMU. Kalau dihitung mundur lagi sebenarnya serangan stroke pertama ketika istri saya masih duduk di bangku SMP. Sehingga kalau dipikir-pikir sudah 13 tahunan beliau terus berjuang dan berpijak pada kesabaran. Namun sebulan terakhir rupaya fisik beliau sudah tidak mampu lagi menopang. Dan Allahpun memanggilnya.

"Tiada seorang mu'min yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya" (HR. Bukhari)".

Semoga Allah menerima seluruh amal sholeh Ibu saya, dan ketabahan dalam menerima penyakit ini menjadi kifarat atas dosa-dosa beliau.


-fifin-
Sebuah pagi di kontrakan Bandung, 2 Februari 2012.

[+/-] Selengkapnya...