Saturday, December 31, 2011

Penghujung Tahun


Tidak terasa sudah hari terakhir di penghujung tahun 2011. Tidak terasa. Yah, kata yang cukup tepat menggambarkan sang waktu. Melesat bagai anak panah jauh meninggalkan sang busur. Terus maju ke depan melangkah tak kenal berbelok. Maka tak heran Imam Al Ghazali pernah mengatakan apa yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu. Hari kemarin adalah masa lalu. Apa yang sudah terlalui sepanjang tahun 2011 akan menjadi masa lalu ketika esok pagi menyapa. Tidak akan pernah bisa kembali lagi. Maka usaha terbaik yang bisa kita lakukan adalah instrospeksi diri atau muhasabah.


Hari masih pagi. Embun pagi masih menyisakan bekasnya diujung genteng rumah. Beberapa tetangga sudah memulai aktifitas masing-masing berlalu lalang di depan rumah. Namun saya dan istri (yang kebetulan sedang berlibur) sudah bersiap-siap untuk berangkat membawa motor kenangan untuk diservis. Berebut pagi menghindari antrian dan panas menyengat. Ah..memang sudah lama motor ini tidak diservis di bengkel. Lihat saja, suaranya sudah kretek-kretek ndak jelas, bahkan ketika melewati gundukan tanah atau polisi tidur seperti mau patah saja skok-nya.

Ketika semuanya sudah siap, kami mulai menggerakkan motor menyusuri jalan menuju bengkel yang berlokasi cukup jauh dari rumah. Jalanan sudah sangat ramai, puluhan asap motor dan mobil mengebul ikut menghias kusamnya langit kota. Namun ada yang unik yang terhias di kanan kiri jalan. Yakni banyaknya penjual terompet dadakan dan mercon berjejer. Banyak jenis terompet yang dipajang. Tak heran memang, hari ini adalah hari terakhir di tahun 2011. Besok sudah memasuki tahun baru, tahun yang menjadi perbincangan banyak orang. Tema 2012, ah.. akan kutuliskan kontroversinya pada tahun yang sama.

Menyambut tahun baru. Ah.. rasanya saya sudah lupa kapan terakhir merayakannya. Bagiku tahun baru itu biasa saja, tidak ada yang merasa perlu dirayakan. Mungkin yang perlu adalah rasa syukur, bermuhasabah dan peta target setahun kedepan. Eh.. akhirnya saya ingat, kira-kira dua tahun yang lalu. Sebuah acara ramah tamah dengan keluarga besar berhias makan bersama. Tidak sampai pada kondisi meniup terompet, dan susah payah menunggu pergantian malam.

Jadi ingat juga ketika malam pergantian millenium 11 tahun silam. Bisa tebak apa yang saya lakukan?. Yup.. malam yang tidak mungkin saya tunggu lagi sampai akhir hidup saya itu hanya terlewat begitu saja. Tidak ada perayaan, bobo' nyenyak sampai pagi.

Begitu juga malam ini. Bakal bernasib sama, insyaAllah. Bagiku malam ini sama saja dengan malam kemarin dan malam-malam sebelumnya. Bakal diisi dengan bobo' nyenyak lagi. Badan segar dan bangun pagi melangkah semangat menyambut mimpi.

Hemm.. sudah berjejal di kepala ini peta target dan mimpi tahun 2012. Namun saya tidak akan mengungkapkannya di blog ini. Lho kenapa?. Alasannya klasik, saya malu ^_^.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, December 28, 2011

Gunung Lawu

Saat itu sore sendu di penghujung pekan. Sendu dengan mendung gelap mengiringi. Tiba saatnya untuk pulang ke kampung halaman di Magetan. Saat itu aku baru saja tiba di stasiun kereta api Bandung setelah sebelumnya naik angkot dari daerah Gunung Batu tempatku tinggal sementara ini. Cuaca sore itu cukup mendung dan gelap. Sesekali suara petir menggelegar bikin gigi ini menggeretak gentar. Teringat sebelumnya ketika naik di dalam angkot, terdengar suara petir yang sangat kuat menyebabkan seorang ibu-ibu di sebelahku sampai berteriak .."Allahu Akbar..Allahu Akbar...". Kulihat di jam tanganku baru pukul 17.37 WIB. Masih cukup waktu untuk istirahat sejenak menghela nafas sebelum masuk waktu sholat Magrib. Jadwal kereta-pun juga masih lama, masih satu jam lagi. Kurogoh kembali lembar tiket di saku celana, disitu tertera jadwal kereta yang akan kutumpangi berangkat pukul 19.00 WIB.

Sambil merebahkan punggung ini ke sandaran tembok mushola stasiun, kuambil hape untuk sejenak melihat status sahabat-sahabat di tweetland. Apakah ada yang menarik ya?. Sret..sret... aku geser dari bawah ke atas beberapa status sahabat terpampang di layar kecil hapeku. Tiba-tiba mata ini menangkap status yang cukup membuat tangan ini berhenti menggerakkan cursor.

"Mahasiwa UNS tewas ketika mendaki gunung Lawu"

Ketika kucari di media online yang lain, juga kutemukan pemberitaan serupa semisal di Detik bisa dibaca disini.

Gunung Lawu? .. Yah gunung yang satu ini memang fenomenal, sering kali menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Pikiranku-pun mulai melayang mengingat kejadian ketika masih berseragam putih biru muda. Kira kira waktu SMU kelas 2, aku dan beberapa teman di Pramuka nekat mendaki gunung ini tanpa persiapan mental memadai. Ah.. untuk versi cerita lengkapnya akan aku tuliskan nanti jika ada waktu dan kesempatan. Tak terasa akhirnya jemari ini mencoba menuliskan pengalaman itu lewat ocehan twitter, yang kebetulan aku abadikan berikut ini.

1. Saya pernah mendakinya sekitar 10 tahun yg lalu. kata intruktur banyak pantangan yg musti dipatuhi ketika berniat mendaki #gunung_lawu.
2. Entah benar atau tidak pantangan tsb, sy hanya menterjemahkan sesuai logika dan keyakinan. Yg jelas beberapa bulan --> #gunung_lawu.
3. --> setelah pendakian saya, dikabarkan ada orang yang hilang. berbekal pengalaman dan rumor yg beredar, akhirnya saya kapok. #gunung_lawu.
4. Kami ketika itu mendaki mulai pagi hari sehingga sore dah bs turun. Tp tak jarang banyak yg nekat mendaki malam hari. #gunung_lawu.
5. Medan ketika siang hari aja terlihat horor, banyak jalan simpang yg membingungkan. Tak tahu skr mungkin tmbah lebih bagus. #gunung_lawu.
6. Ketika sdh sampe atas banyak kabut tebal yg membuat susah bernafas, kami kadang terpaksa menundukan badan mencari oksigen. #gunung_lawu.
7. Kabut yg mungkin sudah tercampur belerang. Meski cukup horor,banyak lho orang yg berjualan di atas. Tentu dng harga muahaal. #gunung_lawu.
8. Ada beberapa jalur yg bs dilewati tuk bs mendaki #gunung_lawu. Kami start mendaki dari lereng cemoro sewu.
9. Dan ternyata yg saya daki itu bkn puncak tertinggi. Puncak #gunung_lawu tertinggi ndak boleh didaki orang normal.
10. Meski bukan puncak tertinggi, kami mendaki selama 7 jam (banyak istirahat), turun cuma 2 jam (lari, takut kemalaman). #gunung_lawu.
11. Oke deh itu seklumit tentang #gunung_lawu yg sudah sering merenggut nyawa. Yg pengn daki hrs persiapan matang.

sumber : https://twitter.com/#!/fifinnugroho

[+/-] Selengkapnya...

Monday, December 26, 2011

Tenggelam

Sudah tiga hari ini saya berada di kota kelahiran di Magetan. Dan sore kemarin saya dikejutkan dengan meninggalnya dua orang yang tenggelam di sungai kampung kami. Saya memang tidak melihat langsung ke tempat kejadian, namun dari kabar yang beredar, ada sekitar enam anak yang bermain dan berenang di sungai itu. Dua diantaranya meninggal karena tidak bisa berenang terjerembab di antara karang bebatuan yang menghalagi dia naik ke permukaan air.

Tak kurang dari tiga hari ini, sudah dua kabar orang tewas akibat tenggelam mengiang di telinga saya. Pertama ketika hari sabtu kemarin, selepas tiba dari perjalanan kereta dari Bandung-Madiun dan sejenak kemudian mampir ke warung pecel di pinggir jalan untuk sarapan, ada seorang ibu bercerita mengenai tewasnya seorang siswa di kolam renang akibat tidak bisa berenang. Dan kabar kedua adalah kejadian kemarin sore. Sungguh tragis memang, namun begitulah takdir. Ketika malaikat Allah sudah bertugas mencatatkan nama orang-orang yang akan dicabut nyawanya, maka tidak ada kekuatan lain yang mampu menghentikannya kecuali Allah sendiri.

Saya tidak akan membahas kejadian apalagi menggunakan analisa detektif Conan/Kindaichi sok menganalisa kematian tragis ini. Tentu karena saya tidak memiliki hak dan kapasitas itu. Saya hanya akan sedikit bercerita mengenang kejadian hampir serupa puluhan tahun silam. Sebuah kejadian tak terlupakan yang hampir merenggut nyawa saya.

Ketika itu saya masih berusia belia, masih duduk di bangku SD. Seperti biasa ketika pulang sekolah, saya dan beberapa teman akan pergi keluar untuk bermain. Saat itu sedang musim berenang di sungai. Sungai ketika itu masih sangat murni, tidak ada penambang pasir yang membuat dasar sungai menjadi lebih dalam dan teksturnya tidak alami lagi. Saya pun segera pergi ke rumah sepupu untuk mengajaknya lumban. *lumban dalam bahasa jawa adalah bermain dan berenang di sungai. Ternyata di rumah sepupu sudah ada satu teman lagi yang siap diajak bermain. Tanpa banyak ba..bi..bu.. saya pun mengajak mereka berenang di sungai. Mereka malah mengangguk antusias. Kami bertigapun segera meluncur ke TKP.

Jarak antara rumah sepupu dengan sungai terbilang cukup dekat. Hanya dengan berjalan sekitar 3 menit dengan melewati satu dua rumah saja sudah sampai di bibir sungai. Beberapa kali kami sempat berpapasan dengan orang yang baru saja beraktifitas di sungai. Saat itu sungai memang menjadi tempat yang cukup vital di kampung kami, khususnya bagi mereka yang berada tak jauh dari belantaran sungai. Sungai umumnya digunakan untuk aktifitas MCK ataupun untuk menanam sayuran kangkung. Beberapa peternak sapi dan kerbau juga sering memandikan peliharaan mereka di sungai.

Sesampainya di sungai, sudah terdengar banyak teriakan anak-anak yang sudah tidak asing bagi kami. Mereka sedang asik lumban. Berteriak mencipratkan air ke teman, kemudian setelah itu menghilangkan diri memasukkan badan sempurna ke dalam air untuk menghilangkan jejak. Dan sesaat kemudian muncul lagi dengan jarak yang cukup jauh setelah sebelumnya bergerak berenang di dalam air berusaha tidak terlihat dari permukaan. Kami yang masih berada di pinggir sungai sudah tidak sabaran untuk segera melepas seluruh baju kami. Seluruh??.. he he iya benar, seluruh baju kami tanpa mengenakan apapun lagi. Ya ndak papa donk.. kan masih kecil. Dan langsung byurrrr.... badan kami langsung saja nyemplung di tempat yang tidak terlalu dalam.

Di tepi sungai tempat baru saja kami loncat memang memiliki tekstur agak tinggi dibandingkan permukaan air sungai. Kira-kira setinggi satu meter. Dengan ketinggian segitu kami bisa melakukan koprol depan dan belakang sebelum akhirnya badan kami menyentuh permukaan air. Hemm.. lumban memang sungguh kegiatan yang mengasyikkan. Saking asyiknya kadang kami sampai lupa waktu. Kami bisa menghabiskan waktu 2-3 jam di sungai ini. Dan biasanya kalau sudah selesai berenang dan perut kami lapar, kami akan mencari tebu di kebun tebu di sebelah bibir sungai bagian seberang. Tentu tanpa permisi terlebih dulu. Wah asli bakat maling semua, jangan ditiru yah..

Karena menyadari bahwa saya tidak begitu pandai berenang, saya memilih melakukan aktifitas di bagian yang agak dangkal. Kira-kira permukaan air setinggi mulut saya dengan kaki yang sudah menginjak dasar sungai. Berusaha sebisa mungkin menghindari daerah di luar kemampuan saya. Namun entah apa yang dibicarakan oleh salah satu teman saya sehingga banyak anak yang tertarik untuk melihat ke arah tampat yang dibicarakan. Saya yang juga penasaran berusaha menggeser tempat saya berdiri ke tempat yang agak enak untuk melihat. Namun naas bagi saya, ternyata saya salah menjejakkan kaki dan ditambah terbawa arus sungai (yang sebenarnya cukup pelan) ke daerah yang dalam. Biasanya jika saya tidak sengaja terbawa ke daerah yang dalam, maka saya akan melakukan trik berenang gaya punggung yang insyaAllah sudah saya kuasai. Namun entah kenapa itu tidak saya lakukan. Saya terlanjur panik, tidak bisa berpikir jernih. Beberapa detik saya berusaha menjejakkan kaki dan mengayunkan tangan untuk membuat badan saya naik ke atas. Namun usaha saya sia-sia. Saya terus terperosok ke dalam dan banyak sekali meminum air. Ketika sekian detik kemudian seluruh badan saya murni hilang dari permukaan air, saya merasa ini akhir hidup saya. Tak ada orang yang menolong saya. Saya tidak bisa bernafas normal dan sekali lagi banyak meminum air.

Saya masih ingat ketika itu saya masih bisa mendengar sepupu saya berteriak,

"Heiii... mana dek fifin??!!", terdengar dari teriakan sepupu saya, dia panik.

"Eh.. fifin klelep...fifin klelep... cari..!! cari....!!", terdengar juga yang lain berteriak histeris. *Klelep artinya tenggelam.

Sadar setengah sadar detik berikutnya sepertinya ada yang menyeret tubuh saya dengan sigap. Wahyu, anak yang jago berenang itu akhirnya menolong saya. Beberapa detik kemudian saya dipapah ke bibir sungai, memuntahkan banyak air.

Kejadian yang tak terlupakan ini tidak pernah saya ceritakan kepada keluarga saya. Apalagi kalau bukan alasan supaya tidak dilarang main di sungai lagi. Dan hari-hari berikutnya saya kembali riang bermain di sungai seakan sudah terlupa dengan kejadian kemarin. Bagiku kejadian kemarin membuatku belajar dan banyak belajar untuk sigap mensiasati kejadian yang mungkin lebih berbahaya. Karena saya adalah si bolang.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, December 21, 2011

Hari Ibu

Besok, tanggal 22 Desember biasa diperingati sebagai hari Ibu. Ah.. tapi aku tidak bersepakat dengan itu. Bagiku, tiap hari adalah hari ibu. Jujur sebenarnya aku juga masih belum mengerti kenapa dipilih tanggal 22 Desember sebagai hari hebat ini. Apa alasannya? ada peristiwa besarkah di tanggal itu? ada yang tahu sejarahnya?

Yah.. sekali lagi bagiku setiap hari adalah hari Ibu. Karena tentu doa setiap hari ketika akhir sholat kita yang akan mengingatkan betapa besar kasih sayang ibu. Ibu memang spesial, lebih spesial dibandingkan bapak. Pengorbanannya juga jauh lebih besar. Ah.. apa diri ini sanggup membayar seluruh jasa-jasanya hingga kini aku hanya bisa melihat goret kulit wajahnya yang sudah mulai merenta.

Hari itu, aku ingat, aku punya kesempatan untuk sedikit bermanja dengan Ibuku. Dan ketika menuliskan ini, kurasakan bibir ini sedang tersenyum. Ah.. I love u mom. Hari itu sudah sore, waktu untuk kembali lagi ke kota Bandung setelah kurang lebih 3 malam berada di kota kelahiran. Hujan rintik-rintik membuat jalanan menuju stasiun basah dan licin. Terdengar sesekali suara petir menggelegar. Biasanya kalau tidak hujan maka istri yang akan mengantar yang tentu saja wajib ditambah dengan deraian hujan lokal di pipinya. Namun karena sedang sakit, akhirnya bapak dan ibu menawarkan mengantarkanku ke stasiun dengan mobil.

Tepat pukul 19.30 WIB selepas sholat isya' terdengar suara deru mobil di depan rumah pertanda bapak dan ibu sudah sampai di rumah mertua. Aku dan istri segera mengambil beberapa perlengkapan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Belum sempat aku keluar dari kamar, ibu sudah berdiri didepan kamarku diantar oleh mertua.

"Lho, katanya yuli sakit?" , ibu bertanya sambil tersenyum.

"Sudah agak baikan bu, namun sepertinya tidak bisa ikut mengantar mas ke stasiun", jawab istri.

Setelah beberapa menit basa-basi kami bertiga (aku, bapak dan ibu) berpamitan dan lekas menuju mobil untuk segera berangkat menuju stasiun. Semoga di jalan lancar dan tidak terlambat, bismillah..

Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah istri menjejakkan roda menyusuri jalanan basah yang terkena air hujan. Sesekali aku menengok ke luar kaca mobil, suasana pedesaan yang sepi. Terlihat siluet cahaya lampu penerangan desa yang menemani laju mobil kami. Ibu yang ketika itu duduk di depan bersama bapak sesekali mengobrolkan.. ah entah apa yang mereka bicarakan waktu itu, aku sudah terkapar membaringkan badanku yang cukup letih ketika itu. Letih karena harus mengurusi istri tercinta yang seharian sakit, muntah-muntah dan lemas.

Beberapa menit mobil terus melaju pelan tapi pasti ke stasiun. Kami akhirnya sampai juga ke stasiun 30 menit lebih awal dari jadwal keberangkatan kereta.

"Mau dibelikan teh panas sama jadah anget.. le..?", ibu bertanya pelan kearahku yang masih duduk mencoba mengembalikan kesadaran setelah sepanjang perjalanan tertidur. (*Jadah adalah sejenis makanan / kue yang terbuat dari beras ketan yang biasa digunakan sebagai oleh-oleh ketika acara mantu / pernikahan di Jawa).

Aku mengangguk pelan menandakan setuju.

"Biar aku saja yang membelikan", bapak menawarkan diri untuk membelikan makanan kecil tadi. Ketika sosoknya bapak sudah menghilang mencari jadah anget dan teh panas, ibu keluar dari tempat duduk depan kemudian masuk lagi ke tempat tengah mobil dimana aku sedang duduk letih disitu.

"Kamu tidur lagi aja le, jam kereta berangkat masih setengah jam lagi", Ibu yang sudah duduk di sebelahku menawarkan diri untuk tempat bersandar kepalaku. Aku yang masih tak kuasa menahan kantuk sudah tentu 100% setuju dengan tawaran itu langsung saja ..bleg... kepala ini sudah jatuh di pangkuan ibu. Ah nyaman sekali, aku seperti anak usia SD yang sedang bermanja dengan ibunya. Ibu juga sesekali membelai rambutku sambil ketawa kecil bercerita tentang keponakanku yang sudah mulai bandel.

Ah.. ibu.. kau sangat menyayangiku, dan akupun sangat menyayangimu.

Jadi ingat apa yang aku baca di novel serial Anak-anak Mamak karya Tere Liye :
"Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian"

[+/-] Selengkapnya...

Monday, December 19, 2011

Syukur


Seringkali diri ini ingin memiliki apa yang orang lain miliki.
Ketika hati mulai mengingini sesuatu yang tidak dipunyai.
Bahagia tak jua didapati, jadilah syukur jauh dari hati.
Fabiayyi' ala irobbikuma tukadziban

Kadang diri hina ini kurang mensyukuri nikmat mata ini..
Mata yang seringkali tak disadari menjadi bagian penting hidup ini.
Dikala banyak sahabat berdoa khusyuk ingin bisa sekedar melihat dunia ini.
Diri ini sibuk mengingini nikmat lain, sedang nikmat yang ada tak jua disyukuri.
Sekali lagi.. dimanakah rasa syukur ini?
Fabiayyi' ala irobbikuma tukadziban

Ya Rabb, Kau ulang ayat indah ini sebanyak 31 kali dalam firman-Mu
Jangan jadikan diri ini semakin kufur atas segala nikmat yang tak kunjung kusadari.
Fabiayyi' ala irobbikuma tukadziban

#sebuah renungan diri

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, December 17, 2011

5 Tulisan Menarik 2011

Pada akhir bulan Desember ini saya ingin mereview kembali berbagai tulisan saya di blog Coffee Break sepanjang tahun 2011. Lima tulisan yang saya anggap cukup bisa dikatakan menarik. Baik dari segi konten, pengemasan, dan kesan yang ditimbulkan oleh tulisan tersebut -halah.. sok jadi auditor-. Tentu saja penilaian kali ini sangat subjektif, karena ditentukan sendiri oleh penulisnya. -loh? gubrak!!-. Tapi tidak apalah.. daripada musti membuat kuisioner..terus dibagikan..disuruh mengisi.. ah.. ribet.

Baiklah, berikut 5 tulisan yang saya anggap menarik sepanjang tahun 2011 :
1. Banyak Alasan Untuk Menulis


2. Himura Kenshin dan Arya Kamandanu


3. Bedah Novel Bidadari-bidadari Surga


4. Belajar dari Kiichiro Toyoda


5. Burlian


Semoga di tahun 2012 semakin rajin nulisnya. Pengen sekali menulis sebuah cerita panjang dan dibukukan dalam bentuk novel. -Halah jangan mimpi fin!-.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, December 15, 2011

Burlian

Kemarin malam setelah pulang kantor dalam kondisi hujan deras saya menyempatkan membeli nasi ayam goreng di dekat kontrakan tempat saya tinggal. Sesekali suara petir terdengar menggelegar menciutkan siapa saja yang sedang berkendara. Menegok di jam tangan disebelah kiri menunjukkan sudah pukul 20.15. Saya harus segera sampai di rumah. Serius.. saya sedang penasaran dengan cerita di novel yang beberapa hari terakhir ini saya baca. Selesai membeli makanan, beberapa menit kemudian saya tiba di rumah yang berlokasi tidak jauh dari tempat membeli makanan tadi. Gemericik hujan, badan yang sudah capek bekerja, lelah juga karena bermain tenis meja di sore harinya, membuat selera makan saya sedang tinggi-tingginya. Selesai makan sambil ditemani nonton TV, cuci muka, gosok gigi, ganti pakaian, saya pun beranjak mematikan lampu dapur, kamar mandi dan ruang tengah. Sekarang masuk sesi yang paling ditunggu-tunggu. Yah apalagi... kalau bukan melanjutkan membaca novel Burlian. Loh ndak mandi..?? ha ha jangan ditanya lah soal itu... jelas tidak masuk kamus bagi warga pendatang di kota ini. --halah alasan--

Dari tiga novel Cerita Anak-anak Mamak besutan Tere Liye yang paling membuatku terkesan adalah Burlian . Kita belum berbicara novel pertama yaitu Amelia (maklum belum beli). Dan pagi ini saya selesai membacanya. Meski ceritanya lebih sedikit dibandingkan Eliana yang notabene lebih tebal dan komplek, namun sosok Burlian di novel ini benar-benar berhasil digambarkan sebagai sosok yang spesial oleh penulisnya. Maka tidak berlebihan jika di akun goodreads saya, rate penuh saya berikan untuk novel ini.


Novel ini mengingatkan saya ketika masih SD. Waktu itu secara tidak sengaja saya menemukan novel yang tergeletak begitu saya di tumpukan buku di meja rumah. Novel itu bercerita tentang kisah kepramukaan. Ditulis dengan sangat runtut dan menarik hingga saya yang kategori anak-anak bisa menikmatinya. Seru dengan petualangan penjelajahan di hutan-hutan. Bertemu dengan kakak-kakak senior yang menyamar menjadi hantu, kakek tua, nenek-nenek dan bahkan orang gila. Pertemuan yang sudah diskenariokan itu menjadi rangkaian teka-teki yang musti dijawab nanti saat tiba di pos selanjutnya. Sebuah novel yang mengagumkan. Setidaknya bagi saya ketika itu. Sayang.. saya lupa apa judulnya dan siapa pengarangnya.

Kembali lagi ke novel Burlian. Bapak dan Mamak sering memanggilnya anak yang spesial. Se-spesial seluruh petualangannya di novel ini. Sikapnya kepada orang tua, kepada gurunya, kepada teman-temannya dan bahkan kepada orang yang baru dikenalnya. Itu semua yang membawa dirinya kepada kesempatan-kesempatan luar biasa yang tidak mungkin dia lupakan sepanjang hidupnya. Ah jadi ingat pepatah atau apalah yang seperti itu :
Orang bodoh kalah sama orang yang pandai, orang yang pandai kalah sama orang yang
licik, orang yang licik kalah sama orang yang beruntung
. Dan Burlian adalah orang yang beruntung itu.

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, December 13, 2011

Suatu Pagi di Desa

Setiap ada kesempatan pulang ke kampung halaman, paling suka menikmati keindahan suasana di pagi hari. Itu karena pagi menyimpan pengharapan yang tinggi. Ada semangat yang menyertainya. Pun juga hari ini, biasanya saya akan pergi keluar dan berhenti sebentar untuk mengabadikan momen yang indah. Tak jauh dari rumah saya, terbentang sawah ladang yang cukup luas. Kali ini sedang musim tanam jagung, tapi ada pula petani yang tetap menanam padi.



Polusi udara yang sangat minim membuat udara masih begitu segar. Dari tempat saya berdiri terlihat gunung Lawu yang megah dengan sebagian puncaknya yang masih tertutup awan. Duhai indahnya pagi ini.. subhanallah. Desa saya ini masuk ke dalam wilayah kabupaten Magetan yang bisa dikatakan termasuk wilayah kaki gunung Lawu. Ah.. menatap megahnya gunung itu dari kejauhan, mengingatkan sebuah kenangan heroik waktu mendakinya. Iya benar... saya mendakinya (lebih tepatnya kami mendakinya). Sebuah pendakian heroik dan misterius beberapa tahun yang lalu. Ah... mungkin akan saya ceritakan itu di lain waktu.

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, December 10, 2011

Catatan Si Bolang : Ayam Nyungsep Part 4

Cerita sebelumnya bisa dibaca di bagian part 1 , part 2 dan part 3.

Suara petok-petok sang ayam malang itu seperti sirine ambulans seketika memanggil sang pemilik. Naas bagi kami, pak Midun ternyata ada di rumah. Tak lama kemudian beliau keluar dari rumah lewat pintu belakang.

"Hei,, kenapa si ayam ini?!", pak Midun beberapa saat mencoba membaca situasi. Beliau masih tidak sadar ada empat begundal kecil yang terbirit-birit berlari melarikan diri diatas galengan sawah padi tak jauh dari belakang rumah beliau.

Kami yang sadar total akan kesalahan fatal ini tanpa banyak berpikir tambah gas untuk segera kabuur melarikan diri. Di belakang rumah pak Midun sekitar 100 meter memang terdapat sawah padi yang cukup luas. Sawah padi yang sudah mulai menguning dengan tangkai padi menunduk itu melambai-lambai diterpa angin semilir. Pemandangan sangat indah yang sayang tidak mungkin kami nikmati saat itu. Sawah padi yang luas itu dibuat berkotak-kotak bertujuan selain untuk membedakan siapa pemiliknya juga tentu saja lebih mudah dalam pemeliharaannya. Pada bagian tepi kotak-kotak sawah tersebut terdapat galengan atau tanggul untuk tempat berjalan kaki. Lebar galengan yang tak lebih dari 30 centimeter ini ternyata sangat punya andil menolong kami melarikan diri dari TKP kejahatan ayam pak Midun.

Sambil tergopoh-gopoh lari, panik, sekaligus dengan tawa tertahan, kami berusaha menyembunyikan wajah. Tentu ini supaya pak Midun tidak mengenali siapa kami. Ditambah lagi pak Midun memang berbeda dusun dengan kami. Namun sial yang dialami si Joko (tersangka utama) yang berlari paling belakang.

"Hooi...ojo mlayu, kowe yo sing mbalangi pitikku yo!? (translate : Hooi.., jangan lari, kalian ya yang melempari sesuatu ke ayamku ya!?)", suara pak Midun persis serasa beberapa centimeter dari telinga kami. Kami tidak menolah, malah menambah kecepatan lari.

"Heii... kamu yang paling belakang, anaknya pak Juki ya?", akhirnya pak Midun mengenali salah seorang dari kami. Pak Juki memang orang tua si Joko. Kami terus mengayunkan kaki sebisa mungkin hilang dari penglihatan pak Midun. Kami yang sudah ngosh-ngoshan tiba di dusun langsung mencoba mengendalikan nafas. Beberapa saat kami masih mencoba menterjemahkan situasi. Situasi menjadi gawat darurat. Pak Midun mengenali si Joko, pasti sebentar lagi pak Midun bakal mengadukan ayamnya ke bapaknya Joko --begitulah pikiran kami saat itu--. Sekali lagi ini gawat. Kami yang sudah berada di kawasan dusun, menatap gelisah satu sama lain. Oi..bagaimana jika ayam nyungsep itu tidak tertolong lagi alias mati?. Suasana menjadi mencekam.

Beberapa jam setelah kejadian itu kami semakin gelisah. Seluruh pikiran fokus dengan kejadian fatal tadi siang. Tidak ada yang bisa makan enak atau bahkan berani keluar rumah untuk bermain. Keesokan harinya situasi tidak berbeda. Masih mencekam bagi kami. Kami dalam posisi tiarap.

Entah apa yang terjadi dengan ayam itu, sampai hari ini kamipun tidak tahu. Yang jelas pak Midun berbaik hati tidak melaporkan kejahatan kami kepada orang tua si Joko. Sejak saat itu kami belajar sesuatu yang sangat berharga. Bahwa ketika kita melakukan kesalahan atau perbuatan dosa, maka hati menjadi gelisah dengan perasaan bersalah. Sebuah pelajaran luar biasa untuk kami, anak SD yang masih ingusan.

--Tamat--

**nama pak Juki, pak Midun dan Joko sengaja disamarkan (bukan nama asli).

[+/-] Selengkapnya...

Friday, December 9, 2011

Pagi Petang

Kawan, ..
Apa yang kita rasakan ketika mata ini terbuka di subuh hari?
rasa syukurkah, atau rasa malaskah?
Tahukah kawan mungkin saja mata ini tidak membuka lagi dan langsung dilanjut dengan tidur panjang.
Ah.. bukan tidur panjang, itu bukan bahasa kami. Adalah langkah pertanggungjawaban.

Tahukah kawan, ..
Ada yang berbeda di waktu pagi dan di waktu petang.
Di kala pagi, terpancar semangat pengharapan membuncah.
Di kala petang, ada rasa kepuasan kekecewaan bercampur dengan keletihan.
Dan alam, seringkali ikut tertawa bahkan menangis melihat tingkah laku kita.
Kita tidak tahu.

Kawan, ..
sudahkah lidah ini terhias tasbih mengucap syukur kepada Sang Rabb?
Dia yang telah membuat pagi dan petang.
Dia membuat pagi dengan terik yang menyehatkan menyokong tubuh semangat beraktifitas.
Dia pula yang membuat petang dengan terik sayu mengiring keletihan tubuh menuju istirahat kala sinarnya sembunyi sempurna.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, December 7, 2011

Catatan Si Bolang : Ayam Nyungsep Part 3

Cerita sebelumnya bisa di baca --~> part 1 dan part 2

Selepas menembakkan peluru lempung ke arah Bubut hitam itu, kami terus berusaha mengejar kemana burung itu menjauh. Sesekali kami harus memperhatikan jalan yang kami lewati karena mungkin banyak ranjau duri yang bisa menghentikan perburuan ini. Sebenarnya suasana cukup panas dengan terik matahari yang menyengat. Namun kami beruntung beraktifitas dibawah pohon-pohon rindang di sepanjang belantaran sungai.

Tiba-tiba saja.. "Kwak....kwak...kwak.."
"Itu dia disana!", Andrik mengarahkan telunjuknya ke rimbun bambu di belakang rumah Mak To. Tanpa pikir panjang kami langsung melangkahkan kaki ke tempat yang dimaksud. Burung Bubut hitam mulai terlihat penampakannya. Kali ini berada di semak-semak pohon bambu yang kalau posisi berdiri kita tidak tepat maka susah sekali melihatnya.

wusss... wusss kembali kami beraksi dengan peluru lempung kami yang hampir habis. Rupanya perburuan Bubut ini lebih sulit dibandingkan dengan apa yang kami kira. Sudah lebih dari satu jam hanya peluh yang membahasahi badan kami. Hasilnya sudah bisa ditebak, nol besar. Yah hasil yang tidak berbeda seperti hari-hari perburuan sebelumnya.

Setelah persediaan peluru lempung kami yang tinggal sedikit, kami memutuskan untuk menyerah dan kembali pulang ke dusun. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Si Joko --nama sengaja disamarkan-- (teman bermain dan juga pemburu burung). Setelah terlibat perbincangan yang tidak serius, Joko memutuskan untuk bergabung dengan rombongan kami.

Beberapa saat kemudian, kami melewati belakang rumah Pak Midun. Di belakang rumah pak Midun memang banyak ditemui pohon besar dan semak belukar. Maklum pemandangan seperti ini bisa didapatkan di kebanyakan rumah di kampung kami. Entah setan mana yang merasuki otak di Joko tiba-tiba berkata :

"Eh ini ada ayam, gimana kalau kita bawa pulang", si Joko sudah menarik karet ketapel ancang-ancang siap melesakkan tembakan lempungnya.

Belum sempat kami berkata untuk mencegah kelakuan si Joko, wusss.... wusss... ptaakk... petookk..ptoookkk.... Ayam malang itupun langsung berkokok keras terkena peluru lempung dan langsung nyungsep. Kepala ayam itu langsung mutar-mutar di gundungan damen yang masih basah. --Damen adalah ranting dari tanaman padi, para petani dikampung kami mengumpulan damen untuk makanan sapi--. Aku yang berdiri tidak jauh dari situ sejenak terdiam bingung..panik.. bercampur menjadi satu.


**cerita akan dilanjutkan ke postingan berikutnya

[+/-] Selengkapnya...

Monday, December 5, 2011

Bekerja Aktualisasi Diri

Hari senin seperti biasa boss besar memberikan nasihat terutama untuk tetap menjaga semangat kami dalam bekerja. Banyak orang bekerja hanya untuk mendapatkan uang yang banyak. Pagi berangkat kemudian sore pulang (ini untuk pegawai kantoran). Atau mungkin rutinitas pekerjaan seorang petani yang mengelola ladangnya tiap hari. Rutinitas yang dikerjakan tiap hari ini kadang kali membuat kita mudah sekali bosan. Saya cukup beruntung bekerja di dunia desain yang sedikit banyak lebih menggunakan kreatifitas sehingga cenderung tidak mudah jenuh. Walau kadang-kadang sesekali mengalami kebosanan juga, jika apa yang saya kerjakan tidak selesai-selesai (misal ada bug yang susah sekali dipecahkan).

Dalam meeting yang diadakan seminggu sekali ini ada seorang rekan yang mengutarakan pendapatnya. Bahwa bekerja itu ada levelnya. Apakah kita pada tingkatan menyukai pekerjaan kita (sering disebut dengan tingkatan loyalitas)?. Apakah kita pada level terpaksa melakukan pekerjaan ini?, sehingga cenderung mengerjakannya asal-asalan. Dan level lain-lainnya yang sayang saya lupa ^_^. Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya. Rekan saya mengatakan tentang level bekerja untuk aktualisasi diri. Hemm menarik juga istilah bekerja untuk aktualisasi diri, meskipun kalimat ini mungkin bisa memiliki makna cukup relatif dan luas.

Apa makna bekerja bagi anda?

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, December 4, 2011

Bacaan Dan Tulisan

Lamat-lamat saya perhatikan beberapa tulisan terakhir saya agak berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Akhir-akhir ini saya getol sekali menarasikan pengalaman masa kecil saya yang bertema petualangan. Bercerita tentang perburuan burung bersama dua begundal lain yang tergabung dalam geng pemburu burung. Entahlah, menuliskan pengalaman tersebut serasa mengalir begitu saja. Lancar laksana jalan tol tiada hambatan. Mungkinkah ini semua karena satu minggu terakhir saya sedang terbius dalam petualangan virtual bersama Eliana? hemm.. sepertinya masuk akal juga. Tulisan dan bacaan mungkin saja sangat berkaitan. Apa yang sedang kita baca maka itu pula yang akan muncul dan terngiang di pikiran. Ketika kita sedang ingin menulis, maka apa yang ada di pikiranlah yang pasti bermanifestasi menjadi tema inti. Bahkan bisa jadi orang yang sedang kesulitan menulis dikarenakan ia sedang minim aktifitas membaca. Sehingga praktis tidak ada ide yang bisa diangkat.

Satu minggu terakhir ini setiap menjelang tidur saya biasa menyempatkan satu sampai dua jam untuk membaca novel Eliana. Novel-novel garapan Tere Liye memang seringkali membuat kecanduan. Membius dan sesekali mengundang gelak tawa. Pernah suatu waktu saya telat tidur sampai pukul setengah dua belas malam gara-gara keseruan menertawakan tingkah laku Burlian dan Pukat --Tokoh Burlian dan Pukat adalah adik-adik Eliana di dalam novel tersebut--.

Adalah dua tulisan paling hangat beberapa hari terakhir yang ini dan ini menguatkan opini diatas. Dua tulisan untuk sekedar menstimulasi kenangan yang masih berserak di kepala tentang masa kecil saya yang luar biasa --setidaknya menurut saya pribadi--. Dan itu perlu didokumentasikan.

Sebenarnya tidak hanya bacaan saja, juga hal apa yang sedang / sering kita tonton. Sebagai contoh dulu pernah saya keranjingan menonton anime Rurouni Kenshin (Samurai-X) maka kemudian muncul tulisan Kenshin dan Arya Kamandanu.

[+/-] Selengkapnya...

Oprek Coffee Break : Tambah Menu Bar

Hari minggu adalah waktu yang tepat untuk sesekali merubah tampilan blog supaya tidak jemu. Tentu ini karena hari minggu memberikan kita keleluasaan waktu untuk oprek html. Kalau dipikir-pikir memang sudah lama saya tidak oprek html blog Coffee Break. Terakhir kali saya ngoprek seingat saya sudah setahun yang lalu. Kebetulan saya abadikan di postingan ini. Mengedit sendiri tampilan blog kadang menjadi aktifitas yang cukup menyenangkan. Meski tetap harus berhati-hati karena bisa-bisa tampilan blog menjadi kacau dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti sedia kala. Maka untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan untuk menyimpan terlebih dahulu setingan htmlnya sebelum melakukan editing.

Semenjak saya merubah tampilan blog yang menggunakan template dasar minima 2 kolom menjadi tampilan 3 kolom, saya baru menyadari ada yang hilang dari tampilan blog saya. Yaitu tampilan Pages yang harusnya muncul dibawah header. Setelah mencari beberapa referensi akhirnya bisa melakukan modifikasi untuk menghasilkan tampilan blog seperti dibawah ini :



Blog itu ibarat rumah yang menaungi segala opini, curhatan, dan celotehan kita. Yuukk mari rawat rumah kita. Kalau bukan kita? siapa lagi.. ---kok mirip iklan ya--


*referensi menambahkan Menu Bar ada disini

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, December 3, 2011

Catatan Si Bolang : Ayam Nyungsep Part 2

Melanjutkan cerita sebelumnya..

Dengan kaki nyeker kami terus menyusuri jalan setapak yang kebanyakan daerah rawa. Terlihat beberapa petani masih terus sibuk menyiangi ladang mereka memastikan hasil pertanian kali ini lebih baik. Tak lama kemudian kami sampai juga di sungai. Gemericik air sungai menambahkan suasana riang siang ini. Saya lihat ada beberapa mbah-mbah yang sibuk memanen sayur kangkung. Sungai ini membujur dari daerah hulu yang terletak di sebelah barat menuju ke daerah lebih landai di timur. Entah nama sungai ini apa, yang jelas sumber terbesar sungai ini adalah berasal dari gunung Bancak dan gunung Lawu. Air sungai kala itu masih sangat jernih. Belum ada penambang pasir yang akhirnya merusak semuanya. Sekarang sering terjadi erosi di pinggir sungai yang berbatasan langsung dengan ladang jagung milik bapak saya.

Kami langsung menyusuri beberapa pohon yang rindang di pesisir sungai. Di belantaran sungai ini banyak sekali pohon rindang yang dihinggapi berbagai jenis burung. Suara ramai burung ini sebagai bukti banyaknya jumlah mereka. Tanpa berpikir lama kami langsung memasang kuda-kuda sambil meraih senjata ketapel kami. Mata langsung memandang ke atas pohon sengon. Wah ada burung Betet yang warnanya sangat bagus. Burung itu terlihat celingak-celinguk tanpa memerhatikan ada bahaya yang sedang mengancam. Dan tiba-tiba saja..

wuss... wuss... 2 butir peluru tanah lempung sudah melesat menghujam ke sasaran. Rupanya kang man dan andrik yang melesakkan peluru tadi. Namun sayang sekali masih belum mengenai sasaran. Peluru lempung kang Man hampir mengenai hanya selisih beberapa centimeter saja. Sedangkan peluru andrik masih jauh dari sasaran untuk tidak dibilang tembakannya ngawur. Diatara geng pemburu kami, kemampuan membidik terbaik adalah milik kang Man, kemudian saya dan terakhir yang masih banyak belajar adalah Andrik. Talenta membidik kang Man memang patut diacungi jempol. Selama ini perolehan burung paling banyak adalah hasil bidikan kang Man. Mendengar dahan yang gemrosok terkena peluru, burung itu menyadari ada bahaya yang mengancam. Akhirnya si Betet pun terbang menjauh. Saya pun mendesah sebal. Bukan karena gagalnya peluru mengenai sasaran, namun lebih karena saya belum mendapat kesempatan kali ini. Kang man (pimpinan geng pemburu burung) membesarkan hati saya bahwa masih akan ada banyak kesempatan yang lain.

Dan benar saja, jika kita jeli mengamati ke pohon-pohon rindang itu, banyak berkeliaran burung-burung. Kami memutuskan untuk berpencar. Mencari bidikan masing-masing sambil terus berusaha menjaga langkah kami agar tidak menimbulkan banyak suara yang tentu akan membuat mangsa lari. Mulai dari burung kutilang, burung emprit, burung betet, burung derkuku, dan masih banyak jenis lainnya yang kita tidak tahu namanya sedang asik loncat berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Di saat saya tengah berkonsentrasi penuh menenangkan hati dan tangan saya supaya bisa mengenai sasaran kali ini tiba-tiba...

"Kang Maaan... Mas Fifiiiin... itu ada burung Bubut hitam sedang bersembunyi di balik pohon bambu!!", si Andrik berteriak yang sontak membubarkan konsentrasiku sambil telunjuknya mengarah ke arah pohon bambu di dekat kami.

Meski sempat mendengus sebal, tentu kata-kata "bubut" tetap terdengar istimewa ditelinga kami. Kami bertiga akhirnya mengendap-ngendap ke arah pohon bambu yang tadi ditunjuk Andrik.

"Manaa..??!!", aku yang masih belum bisa melihat burung Bubut bertanya mendesis ke Andrik.

"Ituu... ada di dahan kedua dari barat, warnanya yang hitam legam itu lho", suara Andrik nyaris tak terdengar, tapi jari telunjuknya hampir menjelaskan semuanya.

Pasti bidikan saya kali ini akan mengenai sasaran. Masak burung sebesar itu bisa lolos lagi. Dan tanpa ba bi bu... peluru lempung kami sudah wuss... wuss..wuss melesat ke arah burung Bubut itu. Dan ..puukkk...krosaak... satu tembakanku kali ini tidaklah meleset. Menghujam tajam ke arah Bubut, namun ternyata peluru tanah lempung memang tak setajam peluru kerikil atau kelereng. Burung Bubut itu tetap tidak jatuh apalagi menderita, dia tetap bisa bebas terbang ke arah pohon bambu lainnya sambil berteriak kwak...kwak... seakan menertawakan kami.


**cerita akan dilanjutkan ke postingan berikutnya

[+/-] Selengkapnya...

Friday, December 2, 2011

Catatan Si Bolang: Ayam Nyungsep Part 1

Kalau berbicara masa ketika kita masih kanak-kanak maka akan begitu banyak kisah yang bisa diceritakan. Apalagi saya yang notabene hidup di desa. Kalau saya perhatikan permainan yang dilakukan anak-anak sekarang cenderung monoton dan tidak kreatif. Hal yang berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan permainan jaman saya ketika masih kecil dahulu. Ada begitu banyak permainan yang bisa dilakukan. Mulai dari permainan karet gelang, bola kasti, betengan, main ketapel, berkelompok mencari belut di sawah, berburu jangkrik dan masih banyak lagi yang lainnya. Entahlah.. apa karena anak-anak jaman sekarang lebih disibukkan dengan nonton televisi yang mungkin bisa berjam-jam lamanya? Tapi memang seperti itu realitanya.

Kadang saya tersenyum-senyum sendiri jika mengingat segala kejadian di masa lalu. Kalau digambarkan dijaman sekarang mungkin saya bisa masuk kategori Si Bolang. Bagaimana tidak, saya bisa menghabiskan waktu seharian penuh berada di luar rumah untuk sekedar berburu burung kutilang atau burung emprit dengan menyisir sungai dan kebun tetangga di desa saya.

Ketika itu mungkin saya masih berumur 10 tahun. Sekolah saya berjarak cukup jauh dari rumah, ada di kota kecamatan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah. Orang tua saya sengaja menyekolahkan di kota kecamatan karena memudahkan untuk antar jemput. Kedua orang tua saya bekerja di kota kecamatan, sehingga praktis rumah di desa pasti kosong. Jadi ketika pulang sekolah saya bisa ke rumah nenek (Ibu dari bapak) yang berada di kota kecamatan sambil menunggu jemputan Ibu. Setiap pulang sekolah dan sampai di rumah, saya terbiasa bertemu dengan anak-anak tetangga untuk mengajak bermain. Permainan apa saja sesuai dengan musimnya. Ketika itu sedang musim berburu burung. Maka saya yang tergabung dengan geng pemburu burung bersama 2 orang teman saya (andrik dan kang man) akhirnya memutuskan untuk berburu burung di daerah pesisir sungai.

Matahari panas mulai menyengat tubuh kami ketika kami dengan ketapel yang sudah siap dengan peluru tanah lempung mulai perburuan ini. Untuk membuat ketapel bisa dibilang susah-susah gampang. Perlu ketrampilan khusus untuk menghasilkan kualitas ketapel yang mumpuni. Bahan kayu ketapel biasanya diambil dari pohon asem karena ulet dan tidak gampang patah. Pohon asem banyak tumbuh di desa kami. Entah itu ada pemiliknya atau tidak, kamipun sering tidak pernah meminta ijin jika mengambil batang kayu pohon asem yang ingin kami jadikan ketapel. Sedangkan pada bagian karetnya, bahan bisa dibeli di toko dekat rumah. Kalep untuk tempat peluru lempung bisa menggunakan bekas ikat pinggang yang sudah tidak terpakai lagi. Perlu diketahui jumlah karet akan mempengaruhi kekuatan daya jangkau peluru yang ditembakkan oleh ketapel. Semakin banyak karet yang digunakan, maka tentu semakin berat kita menariknya namun dibalik itu hasil tembakannya juga bakal luar biasa. Burung mana yang kuat menahan gempuran tanah lempung dari jepretan ketapel berkaret double 3??

Untuk bisa sampai di sungai kami harus menyelusuri beberapa kebun milik tetangga sambil sesekali melihat-lihat siapa tahu ada burung yang lewat. Siang-siang begini biasanya banyak burung emprit yang hinggap di pohon belakang mbah Janem (tetangga saya). Dan benar saja, banyak burung yang berseliweran di antara dahan dan ranting pohon. Berkicau riang seriang hati kami. Mereka tidak sadar bahwa ada 3 musang berbulu manusia yang siap meluncurkan roket-roket tanah lempung yang akan membinasakan mereka. Dan wuss wuss.... beberapa ketapel kami mencoba membidik ke sasaran namun hasilnya kali ini masih nol besar. Beberapa kali gagal mengenai sasaran, kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke sungai. Disana kami yakin akan menemukan jauh lebih banyak burung dengan berbagai tipe. Dan tentu saja burung-burung yang jauh lebih besar daripada burung yang ada di pohon milik tetangga tadi yang besarnya tak lebih dari genggaman balita. Sebut saja burung 'Bubut'. Burung yang satu ini bahkan besarnya hampir sama dengan ayam betina dewasa. Warna hitam kelam dengan suara kwak..kwak... yang suka sekali hidup menyelinap di lebatnya pohon bambu.


**catatan si bolang akan dilanjutkan pada postingan berikutnya

[+/-] Selengkapnya...