Monday, March 5, 2012

Heci dan Bala-bala, samakah?

Kalau teman-teman berkunjung ke daerah Magetan, maka cukup banyak dijumpai jajanan kecil yang mampu mengundang selera. Beberapa diantaranya pernah saya posting di tulisan grebeg pasar. Ada ampyang, suling gading, brem, beraneka gethuk dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun saya tidak akan membahas makanan-makanan tersebut diatas. Saya sedang ingin membahas makanan kecil yang banyak dijumpai di hampir semua warung kopi yang ada di kampung halaman saya. Namanya heci, pernah dengar?

Beberapa waktu yang lalu, saya tengah mengantarkan istri yang sedang ingin makan nasi sayur asem kesukaannya di warung yang berlokasi di daerah Magetan kota. Meski lokasinya agak jauh (kira-kira 15 km, dekat SMU saya dulu), yah ndak apa-apa, menyenangkan hati istri kan berpahala ^_^. Warung nasi sayur asem ini cukup terkenal di Magetan. Meski tempatnya kecil, namun pengunjung datang dan pergi silih berganti. Menandakan cita rasa makanan yang disajikan di warung ini bukanlah isapan jempol belaka, apalagi isapan rokok ^_^.

Setelah masuk ke dalam warung, istri langsung memesan nasi sayur asem lengkap dengan minumannya. Saya langsung saja duduk di tempat yang sedang kosong, mata sejenak lamat-lamat mengamati beberapa jajanan kecil yang terhidang di meja. Ahaa... salah satunya adalah makanan yang saya sebutkan diatas. Yah.. bener, si heci kawan!. Tumpukan heci tengah melambai-lambai menggoda selera saya. Dan ternyata itu berbuntut sukses besar. Tak pelak dalam hitungan detik, tangan saya sudah meraih satu heci besar. Hemm maknyusss.



Setahu saya di daerah lain tidak ada makanan sejenis ini. Eh ada sih yang mirip, yakni 'bala-bala'. Namun menurut saya bala-bala berbeda dengan heci. Meski banyak orang mengatakan hampir mirip (bahkan ada yang ekstrim mengatakan sama saja), namun tetap saja bagi saya rasanya berbeda. Racikan bumbunya sedikit berbeda dan tentu saja bentuknya berbeda pula. Bala-bala teksturnya lebih tipis dan permukaan bagian pinggir tidak teratur. Sedangkan heci bentuknya agak gembul dan bundar mirip UFO si piring terbang. Kemudian dibagian permukaan heci, terdapat taburan kacang tanah yang sudah dipecah menjadi dua kemudian digoreng bersama dengan racikan bumbu heci yang lain. Ini semakin menambah varian lain cita rasa si heci.

Pernah makan heci kawan?

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, March 4, 2012

Hidup Seperti Air Mengalir

Ada beberapa saya temui seorang teman yang ketika saya tanya mengenai rencana hidupnya (misal tentang menikah)? dia mengatakan biarkan hidup saya mengalir seperti air yang mengalir. Hemm sejenak saya bingung dengan jawaban seperti ini. Karena artinya visinya tidak jelas. Coba kita bayangkan seorang petani yang sedang mengairi sawahnya. Maka dia akan membuat tanggul yang berkelok-kelok sesuai dengan kondisi tanah sawahnya. Artinya si air akan mengikuti saja tujuan dari si pembuat tanggul akan diarahkan kemana. Dia tidak memiliki hak untuk memilih.



Padahal hidup itu harus memiliki visi yang jelas. Entahlah ini hanya opini saya saja. Apakah maksud seperti ini yang ada dipikiran teman saya itu? atau mungkin saja saya yang salah interpretasi.

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, March 3, 2012

Pesta Ikan Belut

Rasanya begitu damai, sejuk, tenang, dan jauh dari nuansa kenaifan. Begitulah perasaanku ketika memandangi area persawahan padi yang subur membentang luas yang berjarak hanya sekitar 700 meter dari rumah orang tuaku di Magetan. Sebuah pemandangan eksotis, yang selalu menarik perhatian saya setiap kali pulang ke kampung halaman. Tersimpan begitu banyak kenangan. Tiap kali saya melewati area persawahan ini, seperti ada pointer yang menunjuk ke memory satu demi satu kenangan masa kecilku yang indah.


Jadi ingat dulu disinilah saya bersama teman-teman masa kecil tengah asik mencari ikan belut untuk dijadikan lauk pauk. Ikan yang seringkali mirip dengan ular ini akan muncul banyak ketika pak tani tengah membajak sawahnya. Jaman saya kecil dulu, tanah sawah dibajak menggunakan 'luku' yang terbuat dari kayu kemudian ditarik menggunakan kerbau. Tidak seperti sekarang yang menggunakan mesin diesel membuat ikan belut takut menampakkan diri.

Kami mencari ikan belut dengan beramai-ramai. Ada sekitar sepuluh orang anak ketika itu. Sungguh ramai dan seru sekali. Pak tani pun merasa tidak terganggu dengan keberadaan anak-anak ini. Baginya mungkin ada keuntungan juga yang bisa didapat, selain ada yang menemani membajak sawah, juga ada kaki kecil anak-anak ini yang sedikit banyak membantu proses menggemburkan tanah sawah. Sebuah hubungan dalam kategori simbiosis mutualisme bukan?^_^.

Mencari ikan belut di tengah sawah gampang-gampang susah. Tinggal kita buntuti saja bajak kerbau itu dan meneliti di setiap jengkal tanah sawah yang baru dibajaknya. Disitu pasti sering ada gerakan mirip ular yang berkelok-kelok. Maka bisa dipastikan 95% kemungkinan itu adalah ikan belut. Namun kita juga musti berhati-hati karena masih ada 5% kemungkinan lain bahwa yang bergerak-gerak itu bukan ikan belut melainkan ular. Karena ini juga terjadi pada teman saya. Ketika dia tengah mencoba mengamankan ikan belut yang baru saja ditangkap, namun ternyata itu adalah ular. Sontak dia langsung kaget dan reflek membuang jauh ular tersebut. Meski agak berbahaya, namun disinilah letak zona keasyikannya. Teman-teman yang lain hanya bisa tertawa-tawa melihat kejadian itu.

Setelah ikan belut didapat, biasanya kami akan membawanya ke salah satu rumah teman saya. Maklum kakak perempuan saya sangat anti ikan belut. Tidak rela wajan di rumah menjadi bekas memasak ikan belut yang baginya sangat menjijikkan. Alhasil kami menikmati pesta ikan belut beramai-ramai di rumah tetangga. Sungguh kenangan yang susah untuk dilupakan.

[+/-] Selengkapnya...

Friday, March 2, 2012

Arti Bahagia

Setiap orang ingin bahagia. Banyak orang juga mencoba mendefinisikan mengenai arti bahagia itu masing-masing. Bagi setiap orang definisi bahagia mungkin saja berbeda. Syekh Abdur Rahman bin Sa'diy dalam bukunya (kiat meraih hidup bahagia) disebutkan "Sesungguhnya diantara penyebab yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi seorang hamba adalah memperhatikan nikmat-nikmat Allah pada dirinya, niscaya dia akan menjumpai dirinya melebihi kebanyakan orang yang tak terhitung jumlahnya. Ia merasa betapa banyak karunia yang telah diberikan oleh Allah"
-Status FB saya beberapa hari yang lalu-


Bahagia, yah sebuah kata yang sering menjadi primadona. Kalau kita mencoba mencermatinya, maka sebenarnya kata ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kadang dia tidak bisa diartikan dengan hanya satu kata atau satu kalimat saja. Dia tidak sama artinya dengan senang atau suka. Dia memiliki varian makna khusus yang lain.

Setiap orang bisa mendefinisikan kebahagiaan versi mereka masing-masing. Misalnya saja bagi saya, ketika saya sudah hidup berumah tangga dengan akhwat pilihan saya, sayapun bahagia. Ketika saya pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan orang-orang tercinta, sayapun bahagia. Ketika saya merasa sangat sehat, sayapun bahagia. Kondisi bahagia ini ternyata bisa bermacam-macam. Namun yang saya ungkapkan tadi hanya sebuah kasus per kasus yang membuat saya mengatakan itu bahagia.

Sebagai contoh kasus yang terjadi pada diri saya diatas, ternyata kebahagiaan itu datang dari nikmat dan karunia Allah yang saya dapat. Maka betul sekali apa yang dikatakan Syekh Abdur Rahman bin Sa'diy dalam bukunya 'Kiat Meraih Hidup Bahagia', salah satu faktor datangnya kebahagiaan adalah memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang ada pada dirinya. Baiklah, akhirnya kita memiliki satu definisi baru mengenai bahagia yakni ia datang karena nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kemudian kalau kita mencermati sejarah Islam, maka kita akan menemui Abdul malik bin marwan, seorang khalifah kelima dari Bani Umayyah. Dia memiliki istana yang sangat megah. Namun apakah istana yang megah itu mampu membahagiakannya?. Ataukah kebahagiaan juga datang dari pasukan luar biasa Harun Ar Rasyid (khalifah kelima dari Dinasti Abbasiyah yang sering dinamakan the Golden Age Of Islam)?. Apakah kebahagiaan datang juga dari harta luar biasa simpanan Qarun?. Pastilah kesemuanya tidak bisa mendatangkan kebahagiaan sejati.

Namun kita bisa melihat dengan jelas kebahagiaan yang ada pada diri sahabat Nabi, sekalipun mereka minim sumber daya manusia, gersang penghidupannya, minim pemasukannya dan rendah daya belinya. Ternyata faktor kebahagiaan itu timbul karena kebenaran yang dijalani, dada yang lapang karena prinsip yang diyakini dan kalbu yang tenang karena kebaikan yang dimiliki.

Maka tugas kita hanyalah berbuat baik untuk menggapai ridho Allah dan menghindari dosa agar diliputi rasa aman. Dengan ini insyaAllah kita bisa mendapatkan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang datang dengan rahmat dan nikmat dari Allah, dan dengan itu kita bersyukur, serta kita pun juga bisa tenang karena prinsip kokoh yang kita jalani. Wallahualam.

Referensi : "Laa Tahzan", oleh Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, March 1, 2012

Nyabu Pagi Ini

Pagi ini menjadi pagi yang cukup sibuk. Dari habis subuh sudah harus mencuci piring dan mencuci pakaian yang seabreg. Dan nanti jam 8 musti harus pergi ke stasiun untuk membeli tiket pulang kampung ke Magetan. Yah alhasil saya tak punya banyak waktu menulis opini dan mengotak-atik kata-kata menjadi tulisan menarik. Yah.. hari ini saya posting gambar saja.


Sepiring nasi bubur yang nikmat menjadi sarapan nikmat bagi saya pagi ini. Sebuah aktifitas nyabu (nyarapan bubur) yang asik ^_^. Apa sarapanmu pagi ini kawan?

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, February 29, 2012

Derita Garuda

Beberapa hari ini saya dikejutkan dengan beberapa pertandingan yang dijalani oleh Timnas Garuda kebanggaan kita dalam rangka dua event besar. Yang pertama adalah HBT (Turnamen Halsanah Bolkiah) yang dilakoni tim garuda usia dibawah 21 tahun dan yang kedua adalah putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia yang dijalani oleh Timnas senior. Keterkejutan saya beralasan karena melihat antusiame masyarakat Indonesia yang sangat rendah. Saya baru mengetahui ada pertandingan Indonesia melawan Singapura hari minggu kemarin karena sebuah ketidaksengajaan. Ini artinya, desas-desus jadwal pertandingan timnas nyaris tak terdengar. Baik itu di kantor atau bahkan di republik twitter sekalipun. Ini sangat berbanding terbalik ketika beberapa waktu yang lalu (AFF atau Sea Games) setiap timnas akan bertanding, di kantor dan di twitter pasti sudah heboh duluan.

Kejutan semakin bertambah dengan permainan Garuda Muda U-21 yang kurang maksimal. Bermain melawan Singapura sangat terkesan kurang greget, alhasil hanya hasil imbang yang mampu diraih. Di laga berikutnya (hari selasa) melawan Myanmar nyaris tidak ada perbaikan signifikan. Meski cukup baik bermain di babak pertama, namun Andik Firmansyah dkk malah keteteran di babak kedua yang akhirnya berujung kekalahan menyesakkan 1-3. Saya melihat Timnas Garuda Muda U-21 ini terkesan masih sangat Andik Firmansyah centris. Setiap bola yang dipegang selalu diupayakan diarahkan kepada Andik. Ini sangat berbahaya pada sistem dan perkembangan pola permainan.

Kejutan semakin memuncak ketika tadi malam Timnas senior dihajar tampa ampun oleh Bahrain 0-10. Memang sih banyak pemain baru yang dimainkan oleh Aji Santosa mengingat banyak pemain inti sebelumnya memilih bermain di ISL. Jika sudah bermain di ISL, tentu artinya haram hukumnya jika ikut memperkuat Timnas Senior. Apapun alasannya, ini tetap menjadi sebuah kekalahan yang sangat memalukan. Saya hanya bisa berpikir "Ada apa denganmu PSSI?, pengurus berganti kok tetap tak ada perubahan??".

Mencuplik komentar teman saya Nur Ahmadi di twitter :
Tidak ada bedanya PSSI rezim bakrie & arifin. Sangat kental nuansa politik & bisnis ketimbang pembinaan & memajukan sepak bola nasional -__-

Jadi rindu kapan kita kembali ber-ueforia dan kembali bersorak seperti ini,


[+/-] Selengkapnya...